Mulyo Asri Ngestiboga II, merupakan sebuah dusun kecil dimana saya tinggal disana bersama orang tua saya. Didusun ini
warganya tentram dan damai, di dusun saya ini mayoritas Islam. Didusun saya memiliki tiga mushola untuk beribadah.
Sebagian besar warga didusun saya adalah bekerja sebagai petani karet. Penduduknya beragam atau bisa dibilang campuran
antara orang sumatra dan orang jawa, dan terjadinya Akulturasi budaya diantara keduanya.

Saya tinggal didusun dengan lingkungan yang cukup baik, untuk penyimpangan sosial belum begitu besar. Tapi jujur didusun
saya adalah tipe anak rumahan yang lebih senang dirumah membaca buku atau belajar programing komputer di dalam kamar
sederhana. Saya bersyukur tinggal disini, karena saya tidak diajarkan bermalas-malasan, dan kebanyakan dari kami disini
adalah seorang pekerja keras. Ya begitulah seorang anak petani karet harus, kuat dalam menghadapi keadaan ekonomi yang
kita ketahui bersama harga beli karet semakin menurun.

Bayak diantara teman-teman saya yang tidak bersekolah, mencoba untuk mengubah nasib dengan pergi kekota dengan harapan
dapat kembali membawa kehidupan baru, namun kebanyakan diantara mereka yang pulang tetap dengan keadaan yang sama.
Mereka menceritakan dan berbagi pengalaman mereka diluar sana, ternyata penuh bahaya dan rintangan. Apalai jika kita
tidak memiliki skill dan SDM yang baik, lebih sulit ternyata hidup dikota itu ujarnya.

Ya kebanyakan dari kalangan pemuda dilingkungan saya ini, berpendidikan paling tinggi SMA itupun untung-untungan
kebanyakan disini tidak melanjutkan sekolah, dan bahkan berhenti kesekolah. Banyak faktor yang mempengaruhi itu 
semua salah satunya faktor biaya dan juga karena faktor pennyimpangan sosial keinginana untuk menikah di usia dini.

Saya kadang berpikir,mungkinkah saya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik saat ini. Karena jujur saya adalah anak pertama
dari 4 bersaudara, tugas saya berat. Karena memang saya hidup dalam sebuah kesederhanaan, yang tiap hari pendapatan 
tidak sebanding dengan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Saya terkadang sering melamun dan merenungkan
kehidupan saya ini, apakah saya mampu mengubah keadaan ini lebih baik atau sebaliknya.

Namun saya adalah anak yang memiliki Optimis yang tinggi dan cita-cita yang besar, salah satunya adalah saya ingin berguna
bagi orang disekitar saya dengan Ilmu pengetahuan dan Materi yang saya miliki nantinya. Setidaknya saya dapat
membangun bangsa ini lebih baik lagi. Karena memang disini, pergaulan bebas begitu besar, jika tidak kuat iman dan
prinsip hidup yang baik maka akan ikut terjerumus dalam keburukan ini.

Memang didusun saya, saya dianggap sebagai anak yang berbeda dengan anak lain pada umunya, yang sangat gaul. Naamun saya
sendiri tidak memperhatikan itu, saya disini tidak memilki banyak teeman. Bukan karena saya orang yang passif dan gagal
dalam berkomunikasi, namun saya menyadari gaya yang terlalu Modern dan style yang kebarat-bartan itu tidak bisa saya ikuti.